Skip to content

KECERDASAN

Juli 16, 2010

Kenapa ada orang disebut lebih cerdas dari yang lain ? Ketika seorang anak usia 2 tahun dapat mengeja sederetan huruf pembentuk kata, bahkan kalimat, dengan baik dan benar, serta merta orang tua dan lingkungannya menyebut ia “anak cerdas”. Sederhana dasar yang dipakai, banyak anak lain dalam usia tersebut sama sekali belum mampu melakukan hal itu.

Derasnya laju informasi, ilmu pengetahuan dan teknologi memicu dan memacu setiap orang untuk menjadi lebih cerdas. Baik oleh diri sendiri maupun – dan ini yang tampak sangat menonjol – orangtua-orangtua yang berlomba “mencerdaskan” anak-anaknya, supaya mampu bersaing. Hiruk pikuk orang berburu kursus, paket latihan, drilling program, dan sebagainya. Apa esensi yang hendak ditangkap ? Mungkin betul, demi meningkatkan – jika mungkin semua – kecerdasan. Namun, barang apa itu ?

Memahami Kecerdasan

Sejak dilakukan studi dan penelitian intensif, hal penting tentang kecerdasan (intelligence) dicerminkan oleh berbagai kontroversi pengukuran. Seperti juga pada barang lain, kontroversi ini tidak pernah berhenti, bahkan sampai sekarang.

David Wechsler (1939) mendefinisikan kecerdasan sebagai kumpulan kapasitas seseorang untuk bereaksi serah dengan tujuan, berpikir rasional dan mengelola lingkungan secara efektif. Ia pula yang mengembangkan peranti tes kecerdasan individual bernama Wechsler
Intelligence Scale, yang hingga saat ini masih digunakan dan dipercaya sebagai skala kecerdasan universal. Sebelumnya, JL Stockton (1921) mengatakan kecerdasan adalah kemampuan untuk mempengaruhi proses memilih yang berprinsip pada kesamaan (similarities).
Beradasarkan analisisnya, C Spearman (1927) memutuskan bahwa seluruh aktivitas intelektual tergantung pada suatu bagan yang disebut faktor G (general factors). Namun tak kalah penting juga sejumlah faktor S (spesific factors) sebagai pendukung. Penjelasannya, faktor G menggambarkan aspek-aspek umum, faktor S adalah aspek yang unik dan given.

Maih banyak definisi maupun pengertian kecerdasan, seiring banyak nama para pencetusnya. Cattell (1963) dan Horn (1968) mengemukakan versi mereka tentang model hierarki kecerdasan (hierarchical model of intelligence). Faktor G berperan sebagai pusat kecerdasan manusia, demikian menurut mereka.

Guilford (1967) terkenal dengan SOI-nya, structure of the intellect model. Ia menggolongkan kecerdasan dalam tiga dimensi, yakni operations (apa yang dilakukan orang), contents (materi atau Informasi yang ditampilkan oleh operations)
dan product (bentuk pemrosesan informasi).

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: